Sejenak jika kita merenungi hidup ini memang tidak akan pernah terlepas dari hitam dan putihnya kehidupan. Kadang kita berada di puncak kadang kita berada di bawah. Ada bahagia, ada kesedihan. Ada kepuasan, ada juga kekecewaan. Orang mengatakan hidup ini memang seperti roda berputar.
Tapi siapkah kita menghadapi kedua kenyataan tersebut…??
Ehm….seharusnya memang siap dan harus siap, kalo boleh lebih ekstrim, tidak boleh tidak siap. Seperti tulisan saya sebelumnya, bahwasanya kita hodup di dunia ini sudah ada sutradara yang mengatur yaitu Allah. Jadi memang indah menjadi seorang muslim, yang bersyukur atas segala kemudahan dalam hidup ini, dan bersabar jika kenyataan tidak sesuai dengan harapan.
Tapi pada kenyataannya….
Saya sendiri akui, sungguh sulit untuk menerima kenyataan yang meleset dari perkiraan. Saya tidak menyebutnya sebagai cobaan. Karena terkadang kita naïf, disebut cobaan, kalo keadaan kita susah..menderita. Sebenarnya ketika kita sedang diatas angin pun…itu juga cobaan, atau lebih halusnya ujian. Karena Allah pun menguji kita..apakah kita bersyukur atau tidak atas keadaan yang kita peroleh.
Kembali ke entry point di atas….
Untuk menjadi siap menang dan siap kalah memang tidaklah mudah. Sedih memang kalo kita melihat ending dari sebuah pilkada, ending dari sebuah pertandingan sepakbola….yang terkadang harus diakhiri dengan kekerasan. Dengan dalih sebagai pihak yang merasa dirugikan, lantas digunakanlah cara-cara yang sangat kurang terpuji….pembakaran, pelemparan batu, pengeroyokan wasit.
Pertanyaan saya adalah….sampai kapan negeri ini harus berjibaku untuk mengatakan “sayalah yang terbaik”????
Ingatlah saudaraku…..di akhirat kelak, masih ada pengadilan yang Maha adil, yang tak akan ada pihak yang merasa dirugikan olehnya. Sebuah pengadilan yang sebiji zarah pun ada balasannya. Lalu masihkah kita menuntut atas ketidakadilan yang kita terima di dunia. Dan ingatlah saudaraku…bahwa ketika kita mengatakan “sayalah yang terbaik” itu ada konsekuensinya……konsekuensi logisnya adalah sebuah pertanggungjawaban di akhirat kelak. Jadi…in the short word…biarlah Allah yang mengurusnya (baca:membalasnya). Beres kan urusan…..Ga bikin repot aparat, ga kasihan tuh aparat-aparat yang di harus disiagain..kalo penghitungan pilkada, pertandingan bola. Mending gaji gedhe….udah gaji ga seberapa….kena pukul lagi. Aduh kasihan deh….
Segampang itukah meyerahkan semuanya pada Allah…??
He….saya akui saja. Tidak. Kecewa memang boleh….tapi janganlah terlalu berlebihan, toh yang berlebihan itu kan temennya syaithon. Oleh karena itu yang terpenting adalah luruskan niat, niat lillahita’ala…. Niatkan semua untuk ibadah, karena memang Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepadaNya. Dan siapkan semua scenario kalah dan menang. Menang dengan scenario pertanggungjawaban dunia akhirat, kalah dengan scenario sakit hati. Mau nangis juga ga papa kok….ga ada yang ngelarang. He……
Wallahualam